ucapan

TERIMA KASIH KUNJUNGAN DAN KOMENTARNYA SEMOGA BERMANFAAT
Tampilkan postingan dengan label dan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Inilah racun syiah dalam 'Buku Pintar Kehamilan dan Melahirkan

Mengutip ulasan Syiah Bukan Islam (SBI) pada Rabu (5/11/2014), syiah di Indonesia menyisipkan aqidah mereka dalam Buku-buku yang umum tersebar dikalangan umum, dengan memanfaatkan ketidaktahuan para pembacanya.
Mereka disinyalir memasukkan doktrin-doktrin dari ajaran syiah ke dalam buku yang tergolong bersegmen umum. Salah satunya adalah ‘Buku Pintar Kehamilan dan Melahirkan, Sebuah Panduan Praktis’ yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press karangan Dr. Athif Lamadhah disinyalir turut menjadi alat penyebaran doktrin syiah. Secara halus, menurut SBI, buku ini menyusupkan beberapa doktrin syiah kepada pembacanya.
Berdasarkan kutipan dari gensyiah.com, berikut beberapa sisipan doktrinasi syiah dalam buku tersebut:
Pada halaman 177 dan 178, termuat anjuran untuk menamakan anak yg baru lahir dengan nama para Imam yang 12 ala Syiah. Di sana juga dikatakan bahwa : “…mengikuti para imam sama dengan mengikuti Islam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah melalui jalur keluarga beliau yang disucikan.”
Pada halaman 179 diajarkan do’a yang masyhur dikalangan Syiah, yaitu Do’a Kumail.
Buku ini secara halus mencela seorang sahabat Nabi, Pada halaman 276, pada bab Kamus Nama-nama Indah dan Islami, pada abjad huruf “U” dan pada nama “Utsman” diartikan dengan arti: Anak Ular, Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana diketahui, kelompok Syiah sangat membenci para Khulafaur Rasyidin sebelum Imam Ali bin Abi Thalib.
Agar menarik minat pembaca, buku ini diklaim oleh penerbitnya sebagai Buku Best Seller Nasional. Meski buku ini berisi tentang tahapan-tahapan pembentukan bayi, tanda-tanda kehamilan, penyakit kehamilan, dan segala sesuatu tentang kehamilan dan melahirkan, namun dengan penyisipan doktrin-doktrin tersebut, maka menjadi tidak layak dibaca oleh Muslimah Ahlu Sunnah.
Semoga melalui paparan SBI tersebut di atas dapat menjadi pelajaran agar kita lebih meningkatkan kewaspadaan dari racun-racun doktrin syiah. Mari kita jaga orang-orang terkasih di sekitar kita agar tidak terbawa arus syiah yang sesat dan menyesatkan.
Mengutip ulasan Syiah Bukan Islam (SBI) pada Rabu (5/11/2014), syiah di Indonesia menyisipkan aqidah mereka dalam Buku-buku yang umum tersebar dikalangan umum, dengan memanfaatkan ketidaktahuan para pembacanya.
Mereka disinyalir memasukkan doktrin-doktrin dari ajaran syiah ke dalam buku yang tergolong bersegmen umum. Salah satunya adalah ‘Buku Pintar Kehamilan dan Melahirkan, Sebuah Panduan Praktis’ yang diterbitkan oleh Penerbit Diva Press karangan Dr. Athif Lamadhah disinyalir turut menjadi alat penyebaran doktrin syiah. Secara halus, menurut SBI, buku ini menyusupkan beberapa doktrin syiah kepada pembacanya.
Berdasarkan kutipan dari gensyiah.com, berikut beberapa sisipan doktrinasi syiah dalam buku tersebut:
Pada halaman 177 dan 178, termuat anjuran untuk menamakan anak yg baru lahir dengan nama para Imam yang 12 ala Syiah. Di sana juga dikatakan bahwa : “…mengikuti para imam sama dengan mengikuti Islam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah melalui jalur keluarga beliau yang disucikan.”
Pada halaman 179 diajarkan do’a yang masyhur dikalangan Syiah, yaitu Do’a Kumail.
Buku ini secara halus mencela seorang sahabat Nabi, Pada halaman 276, pada bab Kamus Nama-nama Indah dan Islami, pada abjad huruf “U” dan pada nama “Utsman” diartikan dengan arti: Anak Ular, Sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana diketahui, kelompok Syiah sangat membenci para Khulafaur Rasyidin sebelum Imam Ali bin Abi Thalib.
Agar menarik minat pembaca, buku ini diklaim oleh penerbitnya sebagai Buku Best Seller Nasional. Meski buku ini berisi tentang tahapan-tahapan pembentukan bayi, tanda-tanda kehamilan, penyakit kehamilan, dan segala sesuatu tentang kehamilan dan melahirkan, namun dengan penyisipan doktrin-doktrin tersebut, maka menjadi tidak layak dibaca oleh Muslimah Ahlu Sunnah.
Semoga melalui paparan SBI tersebut di atas dapat menjadi pelajaran agar kita lebih meningkatkan kewaspadaan dari racun-racun doktrin syiah. Mari kita jaga orang-orang terkasih di sekitar kita agar tidak terbawa arus syiah yang sesat dan menyesatkan.
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2014/11/06/inilah-racun-syiah-dalam-buku-pintar-kehamilan-dan-melahirkan.html#sthash.eVHspU8k.dpuf

Senin, 16 Februari 2015

Susi Pudjiastuti Lelah dan Kalah


Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan dirinya tersiksa menjadi menteri Jokowi. Oleh karena itu, dia berniat mundur tahun depan. Niat Susi membatasi waktunya menjadi menteri hanya dua tahun itu pertama kali diungkalkan di acara talk show yang ditayangkan TV Swasta, Rabu (malam).

Keputusan Susi ini disayangkan banyak pihak. Pasalnya, Susi adalah menteri Jokowi dengan kinerja paling moncer. Dari penilaian tiga bulan pertama, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menempati peringkat teratas dalam hal tingkat kepuasan masyarakat. Hal itu diungkap oleh survei Lembaga Klimatologi Politik (LKP) minggu lalu.
Sementara itu dari perspektif media, Menteri Susi juga mengungguli 33 menteri lainnya di Kabinet Kerja. Menteri yang hanya lulusan SMP itu paling sering diberitakan secara positif oleh media. Sebanyak 49,39 persen pemberitaan mengenai Susi bernada positif.
Publik sangat menyayangkan niat Susi itu. Menteri lulusan SMP ini adalah menteri yang cukup fenomenal dengan gebrakan-gebrakannya. Kalau dia mundur, kinerja kabinet Jokowi bisa pincang. Pasalnya, menjadi menteri tidak cukup hanya dua tahun. Waktu dua tahun biasanya baru digunakan untuk perencanaan dan evaluasi. Kalau Susi mundur, bisa-bisa program-program yang dirancang Jokowi tidak terlaksana dengan baik.
Menarik untuk ditelisik adalah pernyataan bahwa dirinya lelah dan tersiksa. “Capek, siksaan terlalu banyak,” ucapnya dengan santai tapi menunjukkan gestur yang sangat serius.
Meski tak memerikan siksaan seperti apa yang dialaminya, orang langsung mafhum bahwa tekanannya adalah tarik-menarik kepentingan politik dan duit.
Terlampau banyak kepentingan di instansi pimpinan Susi ini, terutama adalah mafia ikan. Mafia-mafia perikanan ini memiliki modal besar, sehingga diduga mampu menempatkan orang-orangnya di pusat kekuasaan. Pemainnya berasal dari dalam negeri dan luar negeri.
Kegiatan utama mereka adalah ilegal fishing dan transhipment. Di samping itu, modus lain adalah menyelundupkan anak buah kapal (ABK) asing di dalam kapal ikan Indonesia.
Cara lainnya adalah manipulasi perizinan. Banyak perusahaan lokal mendaftarkan kapal, tapi ternyata digunakan oleh asing.
Pelelangan kapal asing hasil sitaan pun tak luput dari tangan mafia. Kapal ini seharusnya tak boleh lagi digunakan untuk menangkap ikan, dan uang hasil lelang masuk ke kas negara. Faktanya, banyak perusahaan asing mengambil kembali kapal mereka yang disita melalui pelelangan. Makanya, di era Susi, kapal yang tertangkap segera dibom!
Susi yang super tegas seperti ini tentu mendapat perlawanan. Pemain lama di bidang ini sudah mengakar, melibatkan semua pihak yang berwenang. Orang awam pun tahu siapa saja mereka. Sebagai orang baru, Susi diduga kalah energi dan dukungan.
Susi seperti berjalan sendiri, jadi tak heran dirinya menyebut dibelit kelelahan. Tak pernah duduk di jabatan publik, Susi mengalami gegar budaya politik Indonesia yang binal.
Di jabatan strategis seperti menteri kelautan, tekanan kanan dan kiri dirasakan Susi sebagai siksaan. Susi yang terbiasa bekerja dengan bebas merasa tak berdaya menghadapi tangan-tangan yang lebih kekar.

Jumat, 13 Februari 2015

Capeknya Menteri Susi dan Buruknya Birokrasi

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTWpdd8Gqi_-hNpN1-Kr_wp0-oWtP3-Dt-b8UGUhP5sD93nm__4kQKehebohan pemerintahan ini bertambah satu lagi, ketika salah satu menteri terbaiknya menyatakan terlalu capek menjadi menteri untuk lima tahun, cukup dua tahun dengan perbaikan yang beliau lakukan, birokrat asli dari kementerian yang bersangkutan bisa menggantikannya. Fenomenal memang ibu yang satu ini, sempat dicibir karena hanya pendidikan SMP, menikah lebih dari sekali, merokok pula di pelataran istana, namun siapa sangka tidak perlu waktu lama langsung membuat jerih banyak pihak, bahkan negara tetangga yang selama ini seenaknya, langsung berubah dan jinak di depannya. Bukan berbicara wacana, namun langsung aplikasi, dan ini pun beribu tekanan menghantam, banyak sisi coba dihembuskan untuk membuatnya mundur dengan berbagai cara.


Salah seorang puteri presiden kedua, yang sedang berlatih menjadi politisi, mengkritik atas “curhatan” ibu menteri, ibu dewan ini menyatakan menjadi menteri tidak boleh sepotong-sepotong, harus tuntas. Kebijakannya pun masih belum memuaskan banyak pihak. Ini memang tugas beliau untuk mengkritisi dan mengawasi kementerian yang bersangkutan. Sah-sah saja pernyataan demikian keluar dari beliau.
Perlu mendengarkan dengan lebih jernih mengapa ada pernyataan capek, lelah, dan jangan lupa ada tambahannya yaitu banyak ditekan dan dibuat-buat berkaitan dengan kebijakannya. Pernyataan dan curhatan yang menarik sebenarnya, bukan langsung direspons secara politis sebagai jangan cengeng atau jangan mengeluh, namun jauh lebih dalam dan menyeluruh betapa buruknya birokrasi dan tata kelola negara ini.
Era yang lalu, menteri bisa sampai berkali-kali, ada yang sampai empat hingga lima kali, tanpa mengeluh lelah. Zaman memang berbeda karena waktu itu, presiden dan kabinet memutuskan semua selesai, tidak akan ada persoalan apalagi penolakan. Kabinet yang baru usai, dua kali saja tidak ada yang mengeluh apalagi minta mundur, sudah ditersangkakan KPK saja masih bertahan dengan berbagai dalih.
Menarik belum genap setahun mengeluh lelah. Lelah tanda bahwa orang memang bekerja keras, bagi yang tidak kerja wajar saja tidak mengeluh karena memang tidak mengeluarkan energi baik pikiran ataupun tenaga untuk berkarya wajar kalau tidak merasa capek dan lelah. Berpindah kementerian satu ke yang lain dengan bangga dan senyam-senyum padahal jelas-jelas tidak punya bekal dan kemampuan, namun sama sekali bukan keluhan. Luar biasa kan?
Mengapa bisa ada keluhan? Karena anehnya negeri ini. Program yang jelas-jelas baik saja masih bisa digorang-goreng sehingga menjadi persoalan. Jelas-jelas kasus hukum saja masih bisa dipersoalkan dan dicari-carikan pembenarannya. Wajar kalau orang yang benar-benar bekerja merasa capek, berbeda dengan orang yang hanya sekedar menjabat tanpa membuat terobosan yang berdaya guna.
Persoalan capek fisik jelas bukan, jauh lebih menarik ialah lelah psikis dan psikologis, terobosan demi terobosan memperoleh kritikan dan bukan dukungan. Seolah-olah bekerja sendirian, dan yang dibela malah merasa dirugikan. Kekacauan demi kekacauan memang telah membuat mana kebenaran dan mana yang salah sumir dan ketika hendak dibenarkan banyak kepentingan yang terganggu merasa terusik dan kemudian membuat tekanan dengan menggunakan segala cara.
Birokrasi yang harusnya berjalan kalau bahasa presiden roda mesin itu bisa bergulir dengan lancar, justru malah ngadat yang membutuhkan dorongan yang luar biasa keras. Belum lagi ganjalan demi ganjalan, ada yang mencoba mengempiskan ban, dompleng sana dompleng sini, sehingga beban makin berat dan itu sangat merugikan jalannya birokrasi. Belum lagi memang roda mesin itu bukan komponen yang pas, tidak heran akan memberatkan pimpinan birokrasi itu.
Sekian lama semua tahu, namun diam saja dan merasa seolah-olah tidak ada persoalan, padahal masalah itu sudah ada di tengah mesin yang cuma mengeluarkan raungan keras namun tidak beranjak. Ungkapan, curhatan penting dari seorang menteri yang jujur dan memang bekerja keras. Perlu mendengarkannya dengan hati bukan telinga politik demi perbaikan negeri yang makin hari makin banyak masalah.
Salam Damai….
 http://birokrasi.kompasiana.com/2015/02/13/lelahnya-menteri-susi-dan-buruknya-birokrasi-723075.html

Teror telah membuat pegawai KPK dan keluarganya tegang

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRPhTCPeaV2zMn3mNIz5S5pr5klGmgH29QZdDWZ_bLc9f1iDfNdkgSetelah Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan calon kapolri Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka kasus korupsi, sejumlah karyawan komisi antikorupsi tersebut mengaku menerima teror. Teror ini dilakukan oleh orang-orang yang tak dikennal menggunakan sepeda motor menghampirinya. Tiba-tiba pengendara sepeda motor ini dengan nada tinggi bertanya mengapa dia memotret menggunakan kamera telepon genggam.Sudah lewat tengah malam ketika seorang jaksa perempuan di Komisi Pemberantasan Korupsi bertanya kepada tim krisis di kantornya, siapa yang mengantarnya pulang ke rumah. Sementara itu, sebagian pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi lainnya dini hari itu memilih menginap di kantor. Mereka merasa keselamatannya terancam jika pulang ke rumah.

Sore hari sebelumnya ada kejadian yang menjurus pada ancaman fisik terhadap salah seorang keluarga pegawai KPK oleh orang tak dikenal. Awalnya, dia hendak menjemput istrinya yang bekerja sebagai salah seorang pejabat struktural bidang hukum di KPK. Sebelum menjemput istrinya, dia menelepon dari samping gedung KPK. Saat menelepon itulah datang orang tak dikenal menggunakan sepeda motor menghampirinya. Tiba-tiba pengendara sepeda motor ini dengan nada tinggi bertanya mengapa dia memotret menggunakan kamera telepon genggam.

Merasa aneh dengan pertanyaan orang tak dikenal itu, suami pegawai KPK balas mengatakan apa maksud pertanyaannya. Namun, si pengendara motor ini langsung hendak merampas telepon genggamnya. Beruntung suami pegawai KPK ini bisa menghindar dan segera masuk ke gedung KPK. Ketika itulah dia melihat ada pistol yang terselip di pinggang pengendara sepeda motor tersebut.

Teror dan ancaman terhadap pegawai KPK juga langsung datang ke rumah. Rumah sejumlah pegawai KPK didatangi orang tak dikenal. Orang-orang tak dikenal ini langsung menemui anak-anak dan istri para pegawai KPK serta meminta agar suaminya berhenti menjadi pegawai KPK.

Bahkan, yang lebih terang-terangan, salah seorang pejabat struktural KPK di bidang penyidikan tiba-tiba didatangi seseorang dari instansi asalnya yang memiliki pangkat lebih tinggi. Kepada pejabat KPK ini, dia memaksa agar dalam batas waktu tertentu harus segera mengundurkan diri dari KPK. Permintaan itu disertai ancaman bahwa data keluarganya sudah diketahui oleh pihak yang meminta pejabat KPK tersebut mundur.

Merasa keluarganya ikut terancam, akhirnya dia mengajukan pengunduran diri. Meski sudah mengajukan proses pengunduran diri, dia terus didesak segera mundur. Orang yang memintanya mundur ini tak peduli bahwa ada prosedur yang harus dilalui jika seorang pejabat struktural mundur dari KPK.

Khawatir ancaman terhadap keluarganya menjadi nyata, akhirnya istri, anak, dan menantunya pun ikut diungsikan ke tempat yang aman dan dengan alamat yang tak diketahui oleh si pengancam.

Sejak KPK menetapkan calon kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Budi Gunawan, sebagai tersangka kasus korupsi, ketegangan terjadi setiap hari. Terlebih setelah Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto ditangkap polisi dan dijadikan tersangka terkait kasus memerintahkan kesaksian palsu di pengadilan, pimpinan KPK lain pun ikut dilaporkan ke polisi. Dalam proses itulah sejumlah pegawai struktural KPK ikut dipanggil polisi.

Saat ketegangan semakin meningkat dan makin susah dikendalikan, KPK pun membentuk tim krisis. Tim krisis ini pula yang coba memberikan bantuan kepada para pegawai yang mendapatkan teror, antara lain dengan menyiapkan tim pengawalan bagi pegawai KPK yang harus pulang malam atau dini hari.

Pembunuhan

KPK merasa teror dan intimidasi terhadap para pegawai dan keluarga mereka sejak penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka makin mengkhawatirkan. Bentuk teror bahkan sampai berupa ancaman pembunuhan.

”Sebagai pimpinan KPK, kami ingin mengonfirmasi, benar telah terjadi dan ada ancaman yang sangat serius terhadap penyidik kami, terhadap struktural kami, dan staf kami. Ancaman ini sungguh-sungguh sangat serius,” ujar Bambang.

Tim independen yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo untuk memberikan masukan terkait kekisruhan KPK dengan Polri pasca-penetapan Budi Gunawan sebagai tersangka, kemarin, datang ke KPK untuk mendengarkan langsung keluhan para pegawai KPK yang mendapatkan teror dan intimidasi.

Bagi para pegawai KPK, jika teror dan ancaman itu langsung ditujukan kepada mereka, hal tersebut tak terlalu berarti karena bagian dari risiko pekerjaan selama ini. Namun, ketika teror itu juga mulai merembet ke anggota keluarga, istri, dan anak-anak, mereka menjadi tidak nyaman.

”Rupanya ada perasaan dari staf KPK yang tidak nyaman dengan situasi sekarang ini, termasuk ada yang merasa diteror, diancam, diintimidasi sehingga kegalauan staf ini menjadi concern. Nah, sebagian staf tadi curhat juga,” kata Jimly Asshiddiqie dari tim independen.

Kini, semua bergantung kepada Presiden Joko Widodo. Kecepatan, ketegasan, dan keberanian Presiden dalam mengatasi masalah ini dan menyelamatkan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia pada umumnya ditunggu tidak hanya oleh para pegawai KPK, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Sejarah akan mencatat langkah Presiden dalam menangani kasus ini.